Menunggu dalam Doa
Ada masa ketika pesan terasa begitu dekat, namun jawaban tetap jauh. Ada saat ketika hati ingin bertanya, tetapi mulut memilih diam. Maka yang tersisa hanyalah sabar, doa, dan keyakinan bahwa setiap sesuatu punya waktunya.
Dalam hening yang panjang, aku belajar satu hal: tidak semua yang ditunggu harus datang cepat, dan tidak semua yang lambat berarti tertolak. Kadang, Tuhan sedang mengajari hati untuk lebih tenang, lebih lapang, dan lebih yakin bahwa yang terbaik akan sampai pada waktu yang tepat.
Jika hari ini aku tampak menatap layar dengan harap, itu bukan karena aku lemah. Itu karena ada doa yang kupanjatkan diam-diam, ada nama yang kusebut dalam sujud, dan ada keikhlasan yang sedang kupelajari pelan-pelan.
Bila tak ada balasan, semoga tetap ada kebaikan. Bila tak ada kabar, semoga tetap ada jalan. Bila belum bersua, semoga doaku yang lebih dulu sampai.
Aku percaya, yang baik tak akan tertukar oleh waktu. Yang tertulis untuk hati ini, tak akan pernah meleset dari takdir-Nya. Maka biarlah aku menunggu dengan tenang, membiarkan pasrah menjadi bentuk harap yang paling indah.
Ya Allah, jika yang kutunggu baik untukku, dekatkanlah. Jika yang kuharap belum saatnya, kuatkanlah. Dan jika yang terbaik adalah melepaskan, tuntunlah hatiku agar tetap ikhlas, tanpa kehilangan doa, tanpa kehilangan harap.
Karena pada akhirnya, yang membuat manusia tetap berdiri bukan hanya harapan, tetapi juga doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan.
Kota B, 8-Mei-2026

