Friday, May 08, 2026

Menunggu dalam Doa


Ada masa ketika pesan terasa begitu dekat, namun jawaban tetap jauh. Ada saat ketika hati ingin bertanya, tetapi mulut memilih diam. Maka yang tersisa hanyalah sabar, doa, dan keyakinan bahwa setiap sesuatu punya waktunya.

Dalam hening yang panjang, aku belajar satu hal: tidak semua yang ditunggu harus datang cepat, dan tidak semua yang lambat berarti tertolak. Kadang, Tuhan sedang mengajari hati untuk lebih tenang, lebih lapang, dan lebih yakin bahwa yang terbaik akan sampai pada waktu yang tepat.

Jika hari ini aku tampak menatap layar dengan harap, itu bukan karena aku lemah. Itu karena ada doa yang kupanjatkan diam-diam, ada nama yang kusebut dalam sujud, dan ada keikhlasan yang sedang kupelajari pelan-pelan.

Bila tak ada balasan, semoga tetap ada kebaikan. Bila tak ada kabar, semoga tetap ada jalan. Bila belum bersua, semoga doaku yang lebih dulu sampai.

Aku percaya, yang baik tak akan tertukar oleh waktu. Yang tertulis untuk hati ini, tak akan pernah meleset dari takdir-Nya. Maka biarlah aku menunggu dengan tenang, membiarkan pasrah menjadi bentuk harap yang paling indah.

Ya Allah, jika yang kutunggu baik untukku, dekatkanlah. Jika yang kuharap belum saatnya, kuatkanlah. Dan jika yang terbaik adalah melepaskan, tuntunlah hatiku agar tetap ikhlas, tanpa kehilangan doa, tanpa kehilangan harap.

Karena pada akhirnya, yang membuat manusia tetap berdiri bukan hanya harapan, tetapi juga doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan.


Kota B, 8-Mei-2026

Wednesday, April 08, 2026

Andai Dunia Bisa Kukembalikan Seperti Waktu Itu

 Ada satu fase dalam hidup, ketika kenangan lama datang kembali tanpa diundang.

Ia tidak mengetuk pintu—tiba-tiba sudah duduk di ruang hati, membuka lembaran-lembaran yang dulu pernah kita simpan rapat.

Begitulah kisah ini bermula.

Seorang perempuan, usia 55 tahun. Hidupnya tidak lagi riuh seperti dulu. Anak-anak mulai memiliki dunia mereka sendiri. Hari-hari berjalan lebih sunyi, lebih panjang, dan terkadang… lebih sepi.

Lalu takdir mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalu.

Seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya di usia 20-an—usia di mana cinta terasa begitu sederhana, tulus, dan penuh harapan.

Pertemuan itu seperti membuka pintu waktu.
Kenangan yang dulu terkunci, kini mengalir deras.
Percakapan terasa hangat, tawa terasa akrab, dan hati… seperti pulang ke tempat yang pernah ia kenal.

Namun hidup tidak pernah sesederhana kenangan.

Lelaki itu kini telah memiliki kehidupan lain. Ada istri, ada tanggung jawab, ada dunia yang sudah terbentuk tanpa dirinya.
Meski demikian, perasaan lama tidak sepenuhnya padam. Mereka memilih jalan yang mereka yakini—menikah secara sederhana, berharap bisa menyatukan kembali apa yang dulu sempat terpisah.

Tapi harapan… tidak selalu sejalan dengan kenyataan.

Hari-hari berlalu, dan pelan-pelan realita menunjukkan wajahnya.
Kebersamaan tidak utuh.
Perhatian tidak selalu hadir.
Dan yang paling terasa—ia tidak sepenuhnya dimiliki.

Akhirnya mereka kembali ke dunia masing-masing.
Lelaki itu kembali ke kota tempat keluarganya berada.
Dan perempuan itu… kembali ke rumahnya, bersama dua anaknya, bersama sunyi yang kini terasa berbeda.




Dalam kesendirian itulah, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri:

"Kenapa hatiku masih tertinggal di sana?"
"Kenapa bayangnya masih hadir, padahal aku sudah berdoa, sudah bersujud, sudah mencoba mendekat kepada Allah?"

Dan mungkin, di titik ini… banyak dari kita pernah merasakan hal yang sama.

(Putaran lagu lama dari seseorang perempuan inisial N yang curhat kepadaku atas kehidupannya saat ini). Semoga kamu sabar ya kawan!  


Hikmah yang perlahan muncul

Kadang kita ingin memutar waktu.
Kembali ke masa di mana segalanya terasa lebih mudah.
Memperbaiki pilihan.
Menghindari luka.
Atau sekadar… mengulang kebahagiaan yang pernah ada.

Tapi hidup tidak berjalan ke belakang.

Waktu tidak pernah kembali.
Ia hanya meninggalkan jejak—untuk kita pelajari, bukan untuk kita ulangi.

Apa yang telah terjadi, telah Allah izinkan terjadi.
Bukan tanpa alasan.
Bukan tanpa hikmah.

Mungkin ini bukan tentang menyatukan kembali masa lalu,
tapi tentang menyadari bahwa tidak semua yang kita rindukan… baik untuk kita miliki kembali.

Tuesday, March 31, 2026

Aku Baik-Baik Saja… Katanya

 Di salah satu sudut kota, aku sering menatap ke langit, menengadah ke Ilahi Robbi yang maha Tinggi.


Ya Allah…

aku nggak tahu harus mulai dari mana.


Kalau orang lihat aku sekarang, mungkin mereka bilang aku baik-baik saja.

Aku masih kerja, masih bercanda, masih jalan seperti biasa.


Tapi Engkau tahu…

di dalam hati ini, aku masih banyak yang belum selesai.


Hari ini aku merasa… campur aduk.

Kadang tenang, kadang kosong.

Kadang aku yakin dengan jalan yang aku ambil…

tapi kadang aku bertanya, “apa benar ini yang terbaik?”


Aku kangen…

bukan hanya pada seseorang, tapi pada suasana.

Pada rumah.

Pada momen sederhana yang dulu aku anggap biasa.


Aku juga kangen anak-anakku…

itu yang paling berat.

Bukan karena aku tidak bisa bertemu,

tapi karena rasanya sudah tidak sama lagi.


Ya Allah…

aku tidak ingin mengeluh, tapi aku juga tidak ingin membohongi perasaanku.


Aku tahu aku harus kuat.

Aku tahu aku harus adil.

Aku tahu aku punya tanggung jawab.


Tapi aku juga manusia…

yang kadang lelah, walaupun tidak terlihat.


Kalau aku jujur…

aku ingin semuanya sederhana.

Tidak rumit seperti sekarang.


Aku ingin pulang…

tapi aku sendiri bingung, “pulang ke mana?”


Ya Allah…

kalau ini jalan hidup yang Engkau pilihkan untukku,

tolong kuatkan aku.


Kalau ada yang harus aku lepaskan,

lapangkan hatiku.


Kalau ada yang harus aku perbaiki,

tunjukkan aku caranya.


Dan kalau aku sedang diuji…

jangan biarkan aku salah mengambil keputusan hanya karena lelah.


Aku tidak minta hidupku mudah…

aku hanya minta Engkau tetap bersamaku.


Aamiin.

Thursday, October 16, 2003

Nakano Ngebrak Lagi

Meeting KKB hari ini, aku tidak ikut. Masalahnya, kepalaku terasa pusing, badan panas dingin.
Meeting terpaksa aku serahkan pada Mas Saino, Ramalan, dan Gultom.
Jam 16.15 aku mendengar kabar dari Henry Yuzano katanya terjadi Gebrakan Keras di dalam ruangan meeting, kemudian Nakano keluar dengan membawa Map.
Berarti Nakano main kasar lagi.
Karenanya sore ini, aku meeting lagi ama temen-temen.
Termasuk dari Pulogadung 3 orang.
Disamping membahas masalah Nakano, kami juga membahas tentang usulan manajemen yang dibuat dalam bahasa Inggris itu.
Puzing.... puzing....

Wednesday, October 15, 2003

Bagi-bagi Pengalaman

Hari ini saya mengumpulkan semua pengurus untuk 'me-refresh' lagi hal-hal yang perlu diketahui dalam melaksanakan Perundingan. Bahasa lainnya Training Teknik Berunding dan Negosiasi.
Saya bersama mas Saino akan jadi Tutornya.
Ini semua saya harapkan dapat 'sedikit' menjadi bekatl buat semua teman pengurus untuk melaksanakan Meeting Base-Up 2003 nanti.
Yah, biar semua pengurus mempunyai rasa 'self of belonging' terhadap organisasi ini. Bukan hanya istilah 'kan ada ketua ini', tetapi semua pengurus merasa sama-sama diperlukan dalam organisasi pekerja ini. Semoga....

Saturday, October 11, 2003

Selamat Jalan Bapak Sarjono

Pukul 16.00 tadi Pak Sarjono A, karyawan Pamindo Bagian IHM resmi dilepas oleh Perusahaan yang diwakili oleh Bapak Benny T. Affandy dan Sugeng H.
Dengan disaksikan oleh Ketua PUK SPSI Pamindo (saya sendiri, Marhansyah) pak Jon menghitung uang Pensiunnya yang berjumlah lebih kurang 42 jutaan itu.
Jam 16.30 pak Jon meninggalkan ruangan dan menyampaikan ucapan perpisahan. Selamat Pensiun pak Jon.... Selamat Jalan....

Menunggu dalam Doa Ada masa ketika pesan terasa begitu dekat, namun jawaban tetap jauh. Ada saat ketika hati ingin bertanya, tetapi mu...