Wednesday, April 08, 2026

Andai Dunia Bisa Kukembalikan Seperti Waktu Itu

 Ada satu fase dalam hidup, ketika kenangan lama datang kembali tanpa diundang.

Ia tidak mengetuk pintu—tiba-tiba sudah duduk di ruang hati, membuka lembaran-lembaran yang dulu pernah kita simpan rapat.

Begitulah kisah ini bermula.

Seorang perempuan, usia 55 tahun. Hidupnya tidak lagi riuh seperti dulu. Anak-anak mulai memiliki dunia mereka sendiri. Hari-hari berjalan lebih sunyi, lebih panjang, dan terkadang… lebih sepi.

Lalu takdir mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalu.

Seseorang yang dulu pernah mengisi hatinya di usia 20-an—usia di mana cinta terasa begitu sederhana, tulus, dan penuh harapan.

Pertemuan itu seperti membuka pintu waktu.
Kenangan yang dulu terkunci, kini mengalir deras.
Percakapan terasa hangat, tawa terasa akrab, dan hati… seperti pulang ke tempat yang pernah ia kenal.

Namun hidup tidak pernah sesederhana kenangan.

Lelaki itu kini telah memiliki kehidupan lain. Ada istri, ada tanggung jawab, ada dunia yang sudah terbentuk tanpa dirinya.
Meski demikian, perasaan lama tidak sepenuhnya padam. Mereka memilih jalan yang mereka yakini—menikah secara sederhana, berharap bisa menyatukan kembali apa yang dulu sempat terpisah.

Tapi harapan… tidak selalu sejalan dengan kenyataan.

Hari-hari berlalu, dan pelan-pelan realita menunjukkan wajahnya.
Kebersamaan tidak utuh.
Perhatian tidak selalu hadir.
Dan yang paling terasa—ia tidak sepenuhnya dimiliki.

Akhirnya mereka kembali ke dunia masing-masing.
Lelaki itu kembali ke kota tempat keluarganya berada.
Dan perempuan itu… kembali ke rumahnya, bersama dua anaknya, bersama sunyi yang kini terasa berbeda.




Dalam kesendirian itulah, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri:

"Kenapa hatiku masih tertinggal di sana?"
"Kenapa bayangnya masih hadir, padahal aku sudah berdoa, sudah bersujud, sudah mencoba mendekat kepada Allah?"

Dan mungkin, di titik ini… banyak dari kita pernah merasakan hal yang sama.

(Putaran lagu lama dari seseorang perempuan inisial N yang curhat kepadaku atas kehidupannya saat ini). Semoga kamu sabar ya kawan!  


Hikmah yang perlahan muncul

Kadang kita ingin memutar waktu.
Kembali ke masa di mana segalanya terasa lebih mudah.
Memperbaiki pilihan.
Menghindari luka.
Atau sekadar… mengulang kebahagiaan yang pernah ada.

Tapi hidup tidak berjalan ke belakang.

Waktu tidak pernah kembali.
Ia hanya meninggalkan jejak—untuk kita pelajari, bukan untuk kita ulangi.

Apa yang telah terjadi, telah Allah izinkan terjadi.
Bukan tanpa alasan.
Bukan tanpa hikmah.

Mungkin ini bukan tentang menyatukan kembali masa lalu,
tapi tentang menyadari bahwa tidak semua yang kita rindukan… baik untuk kita miliki kembali.

Tuesday, March 31, 2026

Aku Baik-Baik Saja… Katanya

 Di salah satu sudut kota, aku sering menatap ke langit, menengadah ke Ilahi Robbi yang maha Tinggi.


Ya Allah…

aku nggak tahu harus mulai dari mana.


Kalau orang lihat aku sekarang, mungkin mereka bilang aku baik-baik saja.

Aku masih kerja, masih bercanda, masih jalan seperti biasa.


Tapi Engkau tahu…

di dalam hati ini, aku masih banyak yang belum selesai.


Hari ini aku merasa… campur aduk.

Kadang tenang, kadang kosong.

Kadang aku yakin dengan jalan yang aku ambil…

tapi kadang aku bertanya, “apa benar ini yang terbaik?”


Aku kangen…

bukan hanya pada seseorang, tapi pada suasana.

Pada rumah.

Pada momen sederhana yang dulu aku anggap biasa.


Aku juga kangen anak-anakku…

itu yang paling berat.

Bukan karena aku tidak bisa bertemu,

tapi karena rasanya sudah tidak sama lagi.


Ya Allah…

aku tidak ingin mengeluh, tapi aku juga tidak ingin membohongi perasaanku.


Aku tahu aku harus kuat.

Aku tahu aku harus adil.

Aku tahu aku punya tanggung jawab.


Tapi aku juga manusia…

yang kadang lelah, walaupun tidak terlihat.


Kalau aku jujur…

aku ingin semuanya sederhana.

Tidak rumit seperti sekarang.


Aku ingin pulang…

tapi aku sendiri bingung, “pulang ke mana?”


Ya Allah…

kalau ini jalan hidup yang Engkau pilihkan untukku,

tolong kuatkan aku.


Kalau ada yang harus aku lepaskan,

lapangkan hatiku.


Kalau ada yang harus aku perbaiki,

tunjukkan aku caranya.


Dan kalau aku sedang diuji…

jangan biarkan aku salah mengambil keputusan hanya karena lelah.


Aku tidak minta hidupku mudah…

aku hanya minta Engkau tetap bersamaku.


Aamiin.

Thursday, October 16, 2003

Nakano Ngebrak Lagi

Meeting KKB hari ini, aku tidak ikut. Masalahnya, kepalaku terasa pusing, badan panas dingin.
Meeting terpaksa aku serahkan pada Mas Saino, Ramalan, dan Gultom.
Jam 16.15 aku mendengar kabar dari Henry Yuzano katanya terjadi Gebrakan Keras di dalam ruangan meeting, kemudian Nakano keluar dengan membawa Map.
Berarti Nakano main kasar lagi.
Karenanya sore ini, aku meeting lagi ama temen-temen.
Termasuk dari Pulogadung 3 orang.
Disamping membahas masalah Nakano, kami juga membahas tentang usulan manajemen yang dibuat dalam bahasa Inggris itu.
Puzing.... puzing....

Wednesday, October 15, 2003

Bagi-bagi Pengalaman

Hari ini saya mengumpulkan semua pengurus untuk 'me-refresh' lagi hal-hal yang perlu diketahui dalam melaksanakan Perundingan. Bahasa lainnya Training Teknik Berunding dan Negosiasi.
Saya bersama mas Saino akan jadi Tutornya.
Ini semua saya harapkan dapat 'sedikit' menjadi bekatl buat semua teman pengurus untuk melaksanakan Meeting Base-Up 2003 nanti.
Yah, biar semua pengurus mempunyai rasa 'self of belonging' terhadap organisasi ini. Bukan hanya istilah 'kan ada ketua ini', tetapi semua pengurus merasa sama-sama diperlukan dalam organisasi pekerja ini. Semoga....

Saturday, October 11, 2003

Selamat Jalan Bapak Sarjono

Pukul 16.00 tadi Pak Sarjono A, karyawan Pamindo Bagian IHM resmi dilepas oleh Perusahaan yang diwakili oleh Bapak Benny T. Affandy dan Sugeng H.
Dengan disaksikan oleh Ketua PUK SPSI Pamindo (saya sendiri, Marhansyah) pak Jon menghitung uang Pensiunnya yang berjumlah lebih kurang 42 jutaan itu.
Jam 16.30 pak Jon meninggalkan ruangan dan menyampaikan ucapan perpisahan. Selamat Pensiun pak Jon.... Selamat Jalan....

Wednesday, October 08, 2003

Habislah Sudah...!??

Baru saja selesai Meeting Pagi , aku sudah dihadapkan dengan Keputusan Baru dari Bapak Sarjono.A, yang meminta agar Pembayaran Pensiunnya dibayar saja , walau berdasarkan Kepmen 150 + Alpha (Gaji 2 bulan).
Matek deh!!!!!!!!
Padahal kemarin sore, aku baru saja meeting bersama pengurus lain tentang langkah selanjutnya untuk terus menindak lanjuti Proses Pensiun-nya Pak Jon tsb.

"Situ kan tau, melawan orang yang punya duit, susah.....!?" Begitu pak Jon beralasan kepadaku.
"Jadi, biar aja deh saya terima dulu, cuman.... nanti minta perjanjian kalo ada lebihnya mintak dibayar!" lanjut pak Jon.
Dalam hati, aku sangat gedek, gemes. Rasanya aku sangat marah dan sedih. Semuanya menyatu dalam kepalaku, yang terasa berdenyut. Nyut... nyut........
Sebagai Ketua SP aku berusaha tenang, dan aku harus tetap tenang.
"OK, pak! Saya mengerti tentang Perasaan Bapak" Memang aku harus menghormati keputusannya. Apapun itu, baik atau buruk, enak atau menyakitkan bagi Pengurus.

Priyo yang datang setelah Pak Jon kembali ke tempat kerjanya, nanya lagi...!
"Gimana Hans???, Menurut saya, udah lah, gak usah dilanjutin"
Ada nada keputusasaan dalam kata-katanya itu.
"Ya, saya mengerti. Kita semua, Priyo, saya dan kawan-kawan yang lain, sangat terpukul dengan keputusan Pak Jon. Tapi, untuk keputusan organisasi tetap harus kita pegang."
Akupun berusaha untuk menekan keputusasaan 'kawan' kita ini.
Sejenak Priyo terdiam...
"Terserahlah.............." Priyo mengakhiri dengan nada kecewa.

Aku benar-benar harus mengambil sikap.
Dengan bismillah, aku putuskan untuk mengajak semua Perangkat Organisasi untuk membicarakan masalah ini.
Mas Saino, Thomas Gultom, Sinuhaji, Priyo, Sumali dan Hadi Prastianto bersama saya jam 9.35 ngumpul di Sekretariat SPSI.
Mulanya, Sinuhaji, Priyo dan Mas Saino tetap 'agak' berat untuk melanjutkan Proses Perkara ini.
"Untuk apa?? TOh kita udah nggak dihormati lagi oleh Pak Jon" Begitu alasan mereka.
Tetapi setelah saya jelaskan bahwa kita harus bersikap lebih bijaksana menanggapi Permasalahan ini, akhirnya disepakati untuk Maju ke Pak Adib, untuk meminta agar Pembayaran dilakukan dengan Catatan bahwa Proses Ke Depnaker tetap kita lanjutkan.

Jam 9.45 Saya minta pak Adib waktu sebentar.
"Saya mau melayat, ada yang meninggal"
Begitu Pak Adib menolak halus.
"Sebentar aja, pak. Paling 15 menit" Akupun memaksa dengan halus.
Pak Adib diam sejenak. Mungkin berfikir. Bisa nggak, bisa nggak....
"OK, deh..." Jawab Pak Adib akhirnya mengiyakan.

Setelah ba-bi-bu sebentar, saya menyampaikan Keputusan PUK FSPSI Pamindo.
Singkat cerita dibuat kesepakatan :

"KASUS MR. SARJONO"
1. Payment u/ KEPMEN + Alpha OK.
Paling lambat s/ tgl 09/Oct 2003 (diusahakan).
2. Pernyataan / Kesepakatan PUK FSPSI & G/A u/ Proses
DEPNAKER tetap dilanjutkan sesuai Permintaan PUK FSPSI.

ttd : Adibuzaman Hamidie, Marhansyah AS, Thomas Junaedi, Saino.

Begitulah......
Akhirnya proses Pak Jon, kita minta dibayar dan ke Depnaker tetap Berjalan...
Moga aja, prosesnya cepat dan membuat lega Organisasi....

Tuesday, October 07, 2003

Masih Ada Pertanyaan

Yah! Masih ada pertanyaan tentang kelanjutan Penyelesaian Kasus Pensiunnya Bapak Sarjono. A dan Kasus 'Schorsing'nya Ibu Dharmawati (Titik). Sampai sekarang belum ada kelanjutannya.
Agak blank juga aku dibuatnya.

Monday, October 06, 2003

Bingung?????

Siang tadi, jam 13.15 Pak Sugeng nanya: "Itu surat untuk Tripartite dimasukkin ke Kota Tangerang atau ke Kabupaten?"
Aku hampir saja tersedak, sebab seminggu yang lalu, saya bersama Priyo dan Sumali memasukkan surat minta diperantarai ke Depnaker Kota.
Waktu itu, kami menemui pak Su'aman. Pak Su'aman tampaknya 'kurang' memberi angin kepada kami, tentang materi PERSELISIHAN yang kami ajukan.
Menurutnya, masalah Pensiun bila mau diperselisihkan, paling-paling Perusahaan nantinya akan membayar sesuai UU no. 13.
Padahal kami menginginkan UU no. 13 + alpha (2 bulan untuk kasusnya Pak Jon).
Tiga hari sebelumnya Priyo bersama Thomas udah sempat konsultasi ke Depnaker Kabupaten bersama pak Sihite, dan mengatakan bahwa Perusahaan harus membayar sesuai KKB yang berarti UU no. 13 plus alpa.
Akhirnya jadilah saya putuskan untuk meminta perantaraan dari Depnaker Kabupaten Tangerang.

Nah lo..!
Sekarang pak Sugeng nanya lagi.
Dalam hari aku jadi ketawa.
Biarinlah, yang paling penting kan bahwa selaku Pimpinan Karyawan aku harus mencari, meminta dan mengusahakan yang terbaik untuk semua karyawan. Walau kadangkala 'Permainan seperti itupun' terpaksa aku lakukan.
Demi karyawan, demi buruh dan keluarganya.......

Menunggu dalam Doa Ada masa ketika pesan terasa begitu dekat, namun jawaban tetap jauh. Ada saat ketika hati ingin bertanya, tetapi mu...